Pembangunan Rumah Induk Puyuh Petelur

Rumah induk merupakan sarana utama juga dalam beternak puyuh, khususnya petelur. Dimana rumah induk menjadi pusat aktivitas kegiatan usaha budidaya ini.

Pada waktu memulai usaha beternak puyuh, pembuatan rumah induk inilah yang biasanya paling banyak menyedot dana permodalan. Ada yang berpendapat, karena rumah induk merupakan modal tetap, maka perlu dibikin sebaik-baiknya.

Namun ada juga yang berpendapat, pada awal beternak, pembangunan rumah induk sehemat mungkin. Yang penting memenuhi syarat untuk beternak.

Perencanaan untuk pembuatan rumah induk pada awalnya tentu mengikuti mau berapa populasi yang akan dipiara, sekaligus kandang puyuh model seperti apa yang akan dipakai. Karena disain kandang puyuh menentukan tata letak muatan seberapa jumlahnya di dalam rumah induk. Agar tetap nyaman dalam pemeliharaan. Mudah dalam membersihkan. Serta tidak pengap.

Di daerah saya sendiri (desa), mengenai rumah induk ini bermacam-macam cara membangunnya:

- memakai bekas kandang sapi. Tentu populasi terbatas.
- menyambung bagian belakang dapur.
- membeli kampung bekas.
- membikin baru.

Untuk ukuran rumah induk beternak puyuh, kembali mengingat pada model/disain/bentuk kandang puyuh yang akan dipakai, bisa saling menyesuaikan.
Upamanya saja memakai kandang puyuh yang saya pakai, saya sebut facelift. Untuk populasi 1000 ekor puyuh petelur sudah cukup ukuran dalam rumah induknya 4 x 2,5 meter. Diisi dua kandang puyuh.
Atau jika diletakkan berhadapan, rumah induknya bisa berukuran 3,5 x 2 meter.

Tergantung posisi pintu rumah induknya dimana.

(Maaf, posting pakai hp, tidak bisa bikin skema. Cukup dibayangkan saja).

Demikian juga untuk populasi 2000 ekor, membutuhkan 4 kandang puyuh yang seperti saya pakai, berarti ukuran dalam rumah induknya 4 x 3,5 meter. Agar tengahnya leluasa untuk kita bergerak beraktivitas dalam pemeliharaan dan perawatan.

Lalu bagaimana standar disain rumah induk untuk puyuh petelur?

Kalau dari ukuran, tentu mengikuti model bentuk kandang puyuh yang akan kita pakai.

Kalau dari dindingnya bagaimana, saya kira mengikuti kondisi cuaca dari masing-masing daerah. Untuk ini bisa dibahas lebih lanjut. Yang jelas selama ini dari memperhatikan beberapa peternakan puyuh, si puyuhnya tidak terlalu menuntut harus bagaimana. Jika membutuhkan kerapatan di malam hari dan keterbukaan di siang hari, kan bisa main buka tutup.

Saya kira yang penting adalah tidak terlalu pengap. Selain untuk kesehatan puyuh petelur, juga untuk kesehatan kita yang memelihara.

Untuk lantai, saya kira juga tidak menjadi begitu masalah. Ada yang sampai sekarang dengan lantai tanah, sampai piara 15 ribu juga tidak masalah. Namun untuk dinding, demi keawetan dan kenyamanan ada baiknya pasang bata / batako, paling tidak ya ukuran tinggi 1 meter.

Kemudian bagaimana dengan atap?
Jika membeli kampung bekas, ukuran dalam 3,5 x 7 kemarin harga 2,5 jt sudah termasuk genting. Jadi rata-rata di daerah saya pakai atap genting. Belum berani memastikan efek jika beratap asbes.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: